Aku duduk didepannya, lama aku berharap bisa bertemu dia malah terkadang aku
merasa kalau keinginan untuk bertemu lagi hanya menjadi keinginan yang tak akan
terwujud. Tapi hari ini keinginan itu telah terpenuhi dia ada di depan mata,
hanya berdua. Kita berdua membalik-balik daftar makanan, sepertinya kita
sama-sama sedang mencari bahan untuk memulai pembicaraan.
“Dari rumah tadi jam berapa?” aku memulai pembicaraan
“Jam sepuluh” dia menjawab datar tanpa melepaskan pandangan dari menu.
“Makasih ya kamu mau datang. Di rumah hujan juga?”
“Iya dari pagi. Untung aja hujannya berhenti kalau enggak mungkin gak jadi.”
“Hujan atau badai aku pasti tetap datang menepati janji.” Kali ini dia
memandang dingin kearahku “Iya, aku tau kalau kamu selalu menepati janji kamu.
Enggak kaya’ aku.”
“Eh, kenapa jadi ngomong kaya gitu. Sorry, aku cuma mau bilang kalo aku
benar-benar mau ketemu dengan kamu.”
“ Iya, aku tau.”
“Permisi, mau pesan sekarang?” pelayan café berdiri tepat disamping meja.
“Eee..aku minta es green tea nya satu, kamu mau pesan makan?” Aku melirik ke
arahnya.
“Mmh, kayaknya ntar aja ya, aku masih kenyang. Aku pesen es teanya juga ”
“Ya udah Mbak, minum aja dulu ya, makasih.” Si Mbak menggangguk dan pergi
setelah mengulang pesananku tadi.
Kembali tinggal kita berdua, masih saling diam. Aku memandang meja-meja di
sekitar kita, mencari sesuatu yang bisa dijadikan bahan pembicaraan, sayangnya
tidak banyak tamu saat ini. Keinginanku untuk bertemu begitu besar begitu
banyak cerita yang ingin kubagi dengannya begitu banyak cerita yang ingin
kudengar darinya tapi saat ini aku tidak tahu harus memulai dari mana.
Beberapa minggu sebelumnya, tepatnya tiga minggu yang lalu. Aku mendapat
pesan singkat SMS, “Hai, kamu lagi sibuk,ya. Cuma mau tanya kabar kamu aja. R”.
Saat itu aku sama sekali tidak tahu siapa pengirim pesan tersebut, sampai
kemudian aku membalas pesan tersebut dan menanyakan namanya. Dan setelah
mengetahui siapa pengirim SMS tersebut begitu banyak kata-kata yang tertulis
melalui SMS dari kita berdua. Saling bertukar kabar, berbagi cerita yang kita
alami selama ini, mengenang masa lalu dan kita berhenti berkomunikasi saat itu
ketika hari hampir mendekati subuh.
Hari-hari berikutnya kita masih saling berukar cerita melalui pesan singkat
SMS, entah kenapa ketika kita berbicara langsung melalui telfon tidak ada kata
atau cerita yang mengalir. Setelah seminggu berlalu, aku terpikir untuk bertemu
dengannya.
Jadi alasan utamaku untuk pulang ke kota kelahirannku kali ini karena ingin
ketemu dengan dia. Melepas rindu dan berbagi cerita secara langsung. Berbagi
cerita tentang kita yang sudah lebih dari 10 tahun tidak bertemu.
“Yenn sama Epan, gimana kabarnya. baik?’ aku menayakan kedua putranya.
“Baik.”
“Koq, enggak diajak ikut?’
“Emang kamu mau ngejagainnya?’ ada senyuman di wajahnya
“Yah kan bisa disuruh main sendiri.”
“Repot kalau bawa mereka.”
“Terus di rumah dengan siapa?”
“Di titipin ke tetangga! Ya pasti sama neneknya, lah.”
“Ibu gak nanya kamu mau kemana?”
“Aku cuma bilang mau ngumpul sama temen-temen kuliah.” Dia melirik
kearahku, “Benerkan, ketemu dengan teman kuliah.”
Duh susah banget, mau ngomong apa lagi nih. Aku bener-bener gak tau mau
ngobrolin apa. Belum lagi sikap dia masih dingin-dingin aja.
“Enggak terasa ya, sepuluh tahun gak ketemu.” kali ini dia mulai bicara
“Bukan cuma tidak bertemu, kita sama sekali putus hubungan.”
“Sebenarnya dua atau tiga tahun yang lalu waktu aku lagi cuti, aku sempat
tanya-tanya tentang kamu ke temen-temen kampus dulu, mereka yang kasih tahu
kamu kerja dimana sekarang. Cuma waktu itu masih segan aja untuk nelfon.”
“Sekarang udah enggak segan lagi?”
“Awal-awalnya agak ragu juga tapi daripada terus kepikiran ya nekat aja
nelfon.”
“Kepikiran apaan?”
“Yah, kepingin tahu aja kabar kamu. Kalau lagi liburan seperti ini aku pasti
masih sempat-sempatin ketemu semua temen baik di kampus dulu tapi dengan kamu
aku sama sekali belum pernah ketemu jadi penasaran aja.”
“Sekarang udah ketemu, gimana ada yang berubah atau masih sama kaya dulu.”
“Secara fisik gak banyak yang berubah, yah paling berubah dikit lah. Perubahan
dari faktor usia yang semakin tua.”
Gelas minuman kedua baru saja disajikan kali ini dengan sepiring sandwich.
Tangannya meraih botol kecil yang berisi lada putih kemudian menaburkan diatas
chilli sauce. Sepotong kentang goreng diambil untuk mengaduk-aduk chilli sauce
supaya bersatu dengan lada putih. Kebiasaan lamanya yang tidak aku lupa.
Kebiasaan yang juga menular ke aku.
“Kebiasaan sambal dan merica belum hilang juga ya.”
“Kamu aja yang gak seneng pedes.”
“Enggak juga.”
“Tidak suka pedas juga enggak apa-apa, enggak usah malu.”
“Siapa yang bilang malu, aku sekali tidak menutupi kalau aku tidak suka pedas.”
“Kok kamu jadi serius gitu, masa gara-gara cabe kamu jadi marah.”
Marah. Saat ini aku tidak bisa marah, kalau dulu aku bakal diam seribu
bahasa dan bermasam muka dan setelah itu dia bakal meminta maaf dan mulai
mengeluarakan suara manja meluluhkan hati. Tapi sekarang rasanya jurus itu
tidak mungkin lagi, aku harus tetap menjaga suasana tetap ceria. Tetap
tersenyum.
“Dulu kalau sudah kesel atau marah kamu pasti diem, gak mau ngomong lagi.”
dia seperti bisa membaca pikiranku.
“Itukan dulu kalau sekarang sudah beda.”
“Apanya yang beda?”
“Ya, beda aja.”
“Iya, apanya yang beda?”
“Dulu, kalo aku ngambek kamu masih mau mengeluarkan kata-kata manis supaya
baikkan lagi, kalau sekarang, memang kamu masih mau?”
“Merayu kamu dengan kata-kata manis, ke laut aja…”
“Satu yang tidak berubah dari kamu, masih tetap keras kepala…” Tiba-tiba
kalimatku terhenti, teringat ke masa lalu, kepala yang biasa bersandar di
bahuku, rambut yang dibiarkan panjang hanya untuk memenuhi keinginanku.
Kenangan dia dan aku terlintas memenuhi pikiranku untuk sesaat.
“Hei, jangan bengong…” dia menghentikan hayalanku yang terbang ke masa lalu.
“Mikirin apa, mikirin anak? Emang udah punya?”
“Mikirin kamu, kenapa kamu makin cantik.”
“Makasih ya, ntar minumnya aku yang bayar.” Suaranya datar dan sepertinya tidak
suka dengan apa yang baru aku ucapkan
“Kayaknya harga makanan lebih mahal dari harga minuman.” Aku mencoba
mendinginkan suasana.
“Ya udah, kalo gitu kita bayar masing-masing.” Nada bicaranya berubah.
“Cuma bercanda aja, koq jadi sensitif gitu…”
Dia diam tidak menjawab. Aku bisa merasa ada yang gak bener, pasti dia gak
seneng dengan kata-kata yang baru aku ucapkan. Setelah itu tiba-tiba suasana
menjadi beku. Aku bisa merasakan ada sesuatu yang menggangu dalam pikirannya
dan aku sama sekali tidak tahu.
“Aku ke toilet dulu ya.” Dia cuma menggangguk wajahnya menatap kosong ke luar
jendela.
“Tolong jaga kursinya hanya untuk aku ya.” Dia hanya diam.
Sebatang rokok menempel di bibirku. Aku menghirup dalam rokokku dan
menghembuskan asapnya sekuat tenaga.
Berusaha mengeluarkan beban, yang aku tidak tahu beban apa yang sedang aku
pikul saat ini. Kebiasaan merokok yang sebenarnya sudah aku tinggalkan enam
bulan yang lalu. Entah kenapa di jalan aku beli sebungkus rokok, tapi paling
tidak saat ini ada manfaatnya.
Aku kembali masuk ke dalam café, syukurlah dia masih duduk manis di pojok sana.
Tidak semanis wajahnya saat ini. Aku melihat sebatang rokok bermain diantara
jarinya, belum dinyalakan. Aku mengeluarakan korek gas, dan sebelum aku
menyalakannya…
“Disini gak boleh ngerokok.” nada suaranya masih datar dan wajahnya masih
memandang keluar.
“O ya.”
“Mintain bill nya, kita cari tempat yang lain.”
Oh Thanks God, dia mau melihat ke aku lagi dan terima kasih juga dia masih
bilang nyari tempat yang lain bukan bilang mau langsung pulang.
Dia langsung menyerahkan beberapa lembar lima puluhan ribu rupiah ke Mbak
yang baru mau menyodorkan bill yang masih tertutup. Dia menyambar tas
tangannya, memasukkan dompetnya, meneluarkan handphone sebentar melirik
kalau-kalau ada SMS atau miss called. Memasukkannya kembali dan langsung
berdiri dan berjalan keluar dari café. Aku berjalan tepat di belakangnya
sebelum keluar kau melihat si Mbak tersenyum manis sambil mengucapkan terima
kasih. Rasanya si Mbak baru saja mendapat tips yang lumayan.
Dia masih belum bicara, berjalan santai sambil melihat tempat yang
menurutnya ok. Langkahnya tiba-tiba berbelok ke salah satu café. Menanyakan
sesuatu ke hostess yang berdiri di pintu masuk dan kemudian memberi tanda
mengajak aku masuk.
Berbeda dengan café sebelumnya yang terang benderang, yang satu ini
suasananya lebih redup dengan alunan musik jazz. Suasana yang pas untuk
berduaan. Tidak terlalu ramai hanya ada beberapa meja yang terisi, mungkin
karena masih sore. Bagus untuk aku, jadi tidak terlalu berisik.
Dia kembali memilih duduk dipojok, dan langsung menyalakan rokoknya. Aku tidak
melihat ada asbak di atas meja. “Emang disini boleh ngerokok.” Dia menaikkan
kedua alisnya. Aku berani taruhan dia pasti menanyakan hal itu dengan hostess
di depan tadi.
“Kamu kenapa jadi diem, aku tadi salah ngomong ya ?” aku membuka
pembicaraan.
“Aku gak apa-apa.”dia menjawab seadanya sambil terus menikmati pasta yang dia
pesan.
“Kamu ngomong dong, cerita apa gitu. Jangan diem terus.”
“Kamu yang cerita, aku dengerin.”
Posisi yang sama sekali tidak menguntungkan untukku. Aku rasa dia juga tau
kalau aku bukan tipe orang yang bisa ngomong banyak. Tapi saat ini aku harus
bisa kalau tidak percuma aja aku ketemu dia dan kemudian saling diam.
“Kenapa kamu belum menikah, Ello!?” pertanyaan itu keluar bersamaan dengan
pasta yang telah habis.
“Aku sudah pernah jawab pertanyaan itu lewat SMS, hanya tinggal menunggu hari.”
“Kenapa baru sekarang, kenapa enggak 2 atau 3 tahun yang lalu.”
“Yah mungkin beberapa tahun yang lalu aku merasa belum siap aja. Belum siap
secara mental dan keuangan dan selama itu juga aku enggak terlalu mikirin atau
punya target menikah.”
“Berarti sekarang kamu udah siap.”
“Enggak juga. Tapi mau gimana lagi, aku juga sadar kalau sekarang umur aku udah
masuk kepala tiga. Jadi mau gak mau ya harus siap.”
“Terus sejak kita pisah, berapa lama kamu sendiri?”
“Aku enggak ingat.” aku tidak begitu nyaman dengan pertanyaannya.
“Dua tahun?.”
“Mungkin.”
“Kenapa sampai dua tahun, bukannya waktu itu kamu lagi di Malaysia. Kenapa gak
cari pacar disana? Kamu kan senangnya sama gadis Melayu.”
“Belum ketemu yang cocok aja, lagian aku kesana buat cari duit bukan cari
jodoh”
“Atau selama dua tahun itu kamu masih mikirin aku?”
Aku tidak bisa langsung menjawab, aku memandang wajahnya beberapa saat. Aku
sama sekali merasa tidak nyaman dengan suasana dan pertanyaanya. Aku sama
sekali tidak tahu arah pembicaraannya. “Aku gak mau jawab”
“Kenapa?”
“Aku gak mau menginggat-ingat masa lalu kita dulu. Aku seneng banget hari ini
kita ketemu dan aku mau hari ini kita gak usah ngomongin yang udah lewat.
Takutnya nanti malah jadi salah pengertian terus marahan. ”
“Dua tahun kamu masih menunggu aku walau aku udah mutusin kamu. Kamu pasti
bener-bener kecewa waktu dengar aku sudah menikah.” Dia sepertinya tidak
perduli dan masih tetap terus menggungkit-ungkit masa lalu.
“Kita ngobrolin yang lain aja ya.”
“Tadi kamu suruh aku ngomong sekarang kamu suruh aku diam.”
“Aku bukan menyuruh kamu diam, kita ngomongin yang lain ya.”
“Aku mau ketemu kamu hari ini, karena aku mau kamu terus terang sama aku. Aku
gak mau terus-terusan merasa bersalah.”
“Merasa bersalah? Kamu enggak buat salah apa-apa.”
“Ello, aku mutusin kamu, aku buat kamu kecewa, aku enggak menepati janji aku.
Kamu bilang itu gak salah.”
Aku menarik nafas panjang, kenapa harus membicarakan yang sudah berlalu.
Kenapa harus membuka sesuatu yang hanya mengingatkanku dengan kekecewaan yang
sebenarnya sudah terobati.
“Itu sudah lama banget, gak perlulah dibicarain lagi. Aku kecewa waktu kamu
mutusin aku, tapi sebenarnya kamu sama sekali enggak pernah buat janji apa-apa.
Aku yang maksa kamu untuk berjanji.
“Maafin ya, aku udah bener-bener bikin kamu sakit hati aku bikin kamu kecewa.”
Aku menghela napas, sebatang rokok kembali menempel di bibirku. Sepertinya
aku memang harus kembali mengingat kenangan masa lalu. Kenangan yang selama ini
telah aku tutup dan simpan dalam hati paling dalam dan tidak perlu diingat lagi
meski tak ingin membuangnya. Disimpan tanpa harus membicarakannya apalagi harus
membicarakannya dengan dia.
“Waktu kamu mutusin aku, untuk beberapa bulan aku masih berharap kamu nelfon
aku lagi. Aku sering ingat dengan kamu, mungkin karena waktu itu aku belum
dapat kerja. Tapi begitu aku dapat panggilan dan mulai kerja. Aku sedikit bisa
melupakan kamu…”
“Tapi kamu masih menunggu selama dua tahun.” dia memotong kalimatku yang belum
selesai.
“Emang iya, kadang-kadang aku masih ingat kamu, tapi hanya sekedar pengen
dengar kabar kamu. Itu aja gak mikirin yang lain.”
“Sebelum kamu pergi aku menulis banyak puisi cinta untuk kamu memberi begitu
banyak janji. Aku tulis karena aku sayang sama kamu dan aku mau kita masih bisa
jalan bersama lagi waktu kamu pulang. Sebelum kamu pergi, di airport kamu
menulis surat yang bilang kamu pasti kembali tapi kamu juga mengucapkan
kata-kata klasik “kalau memang jodoh pasti ketemu lagi”, dan ternyata kita
memang tidak jodoh. Mungkin jodoh kita hanya sebagai teman, dan aku bisa
menerima itu jadi gak ada yang perlu disesali, gak ada yang perlu disalahkan.”
Aku mengucapkan kata-kata itu tanpa sedikitpun melepas pandanganku dari dia.
Aku bisa melihat mata indahnya sedikit berkaca menahan air mata. Aku ingin dia
berhenti untuk menyalahkan diri sendiri dan mulai membicarakan hal lain.
“Sekarang kamu udah ketemu aku, apa aku kelihatan seperti orang yang masih
patah hati atau frustrasi. Aku rasa enggak. Aku bahagia dengan apa yang aku
miliki saat ini, jadi kamu enggak usah terus merasa bersalah gitu.”
“Tapi waktu aku mutusin kamu, kamu juga bilang kalau kamu akan selalu dan akan
tetap menunggu aku pulang. Aku masih ingat.”
“Oh, come on, waktu itu kita terpisah ratusan kilo dan kita hanya berbicara
lewat telfon. Apalagi yang harus aku buat selain meyakinkan kamu dengan
kata-kata. Aku sayang kamu tapi kalau bukan jodoh mau gimana lagi.”
“Makasih ya, kamu selalu baik dengan aku.”
“Makasih juga untuk kamu, udah bayarin minum aku tadi.”
“Aku serius, kamu selalu baik sama aku. Sudah lama aku mau nelfon kamu, bicara
dengan kamu. Tapi aku takut kalau kamu masih marah sama aku, enggak mau bicara
sama aku.”
“Ini cuma masalah pacaran, kamu memang menggores luka di hati aku
meninggalkan bekas yang tak akan hilang tapi kamu bukan membunuh aku. Jadi
berhenti menyalahkan diri karena luka ini tetap memberi arti tersendiri.”
“Kamu sempat-sempatnya berpuisi.” Ada sedikit senyum diwajahnya.
“Sekarang kamu sudah senyum, berarti kita bisa bicarain yang lain kan.”
“Aku mau dengar tentang pacar kamu, ketemu dimana orangnya seperti apa.”
“Gimana ya, orangnya baik…”
“Cantik, sabar, perhatian dan pasti…setia.”
“Kayaknya aku gak perlu jawab, kamu sudah kenal baik dengan dia.”
“Aku serius nih.”
“Siapa yang bercanda, aku belum selesai udah maen potong aja.”
“Oke deh, aku dengerin.”
“Sebelum kita pacaran kita berdua sudah jadi teman baik. Dia sudah tahu kebiasaan-kebiasaan
aku, yang baik dan yang buruk. Dan yang terpenting dia selalu memotivasi aku
dan selalu ada saat aku perlu. Dia juga bisa menutupi kelemahan aku, terutama
kebiasaan aku yang susah bicara, kalau dia seneng banget ngobrol sama siapa
aja. Kalau udah ngobrol susah menyuruh dia berhenti.”
“Kamu sayang banget dengan dia ya.”
“Lima tahun jalan dengan dia.”
“Kamu masih kayak dulu ya, susah banget mengucapkan kata “sayang”, semua
perempuan pasti seneng kalau sering mendengar kata sayang dari pacarnya. Kamu
bisa menulis puisi cinta kamu juga setia, tapi kamu jarang atau bisa dibilang
tidak pernah mengucapkan sayang dan cinta secara langsung. Kenapa ya, padahal
kamu juga nggak rugi apa-apa kan.”
“Kata-kata gak punya arti kalau enggak bisa dibuktiin.”
“Seperti aku,ya.’”
“Oh God, please don’t start again.”
“Aku seneng bisa bikin kamu kesel.”
“Satu yang sama dari kalian berdua, dia juga enggak pernah bosan bikin aku
kesel.”
“Kamu kangen dia ya, kamu sayang dia, kan.” senyuman usil terlihat di wajahnya.
Tidak ada lagi wajah sedih dan bersalah yang beberapa menit yang lalu
terlihat. Sekarang dia tertawa ceria. Senyum dan tawa membuat dia terlihat
lebih cantik, aku bahkan baru sadar kalau dia terlihat lebih cantik dari yang
aku ingat. Atau mungkin selama sepuluh tahun ini aku membayangkan dia seperti
wanita penyihir yang telah melukai hatiku.
“Anyway, terusin lagi cerita tentang pacar kamu.”
“Mau cerita apa lagi?”
“Ya, apa aja. Kalian jadiannya kapan. Dia kerja dimana, kamu liburan disini
kenapa gak diajak ikut?”
“Aku ketemu dia waktu di Malaysia, kita kerja di tempat yang sama. Sering
ketemu, sering ngobrol, sering jalan terus… yah, enak aja kalau bareng dia.”
“Katanya ke Malaysia bukan cari jodoh”.
“Pertama dia bukan orang Melayu, yang kedua setelah dua tahun menunggu
“seseorang” dan tidak kunjung tiba aku jadi mikir, yah hidup mesti diterusin.”
“Koq, gak diajak kesini, ketemu calon mertua…”
“Sekarang dia lagi di luar, dia dapat kesempatan untuk training dari tempat dia
kerja.”
“Training kemana?”
“Training ke luar”
“Ke luar negeri, koq bisa ya kamu selalu di tinggal pergi ke luar negeri terus
sama pacar kamu. Kenapa gak dilarang.”
“Kenapa harus dilarang, kalau seandainya aku dapet kesempatan yang sama aku
juga mau.”
“Kamu gak takut…”
“Gak takut di putusin lagi.” Aku langsung memotong kata-katanya.
“Kalau jodoh enggak bakal kemana, bener gak?”
“Aku doain kalian baik-baik aja, pulang dari sana langsung nikah. Amin…amin…”
Tidak terasa sudah lama kita duduk disini, meja-meja disebelah juga sudah mulai
terisi. “Kita jalan keluar, yuk.” Dia menggangguk.
Dia berhenti di depan toko baju,“Masuk yuk, temenin aku nyari baju buat
Yenn.”
“No problem, Mam.”
Selagi dia sibuk memilih-milih baju yang tergantung, aku sama sekali gak tau
mau ngapain. Aku hanya memperhatikannya. “Yang jaga toko pasti ngirain kita
suami istri.” Dia gak jawab.
“Aku tunggu di luar ya.” Makin lama aku jadi serba salah, ini pertama
kali aku masuk ke toko pakaian untuk anak kecil. Sementara dia kelihatan masih
serius memilih baju. Baru beberapa langkah aku membelakanginya…
“Papa tunggu di kasir ya.” suaranya lumayan keras, atau memang disengaja,
cukup untuk membuat beberapa pasang mata melirik ke arah kita berdua. Aku cuma
bisa tersenyum meringis.
“Udah selesai belanjanya, Ma.” dia keluar setelah beberapa menit di dalam toko.
Aku mengulurkan tangan untuk membawa tas kertas berisi baju.
“Sorry ya, ngerepotin kamu. Makanya buruan kawin, biar cepet punya anak.”
“Kamu tau kalau aku punya anak, aku mau anak cewek. Biar kalau udah besar aku
jodohin dengan anak kamu. Kita jadi besanan.”
Kita berdua berjalan ke lantai dasar, air mancur yang ada di depan mall
sudah terlihat. Rasanya aku belum mau keluar. Keluar berarti, mengucapkan
terima kasih dan sampai jumpa. Kata hatiku masih belum mau mengakhiri sore ini.
“Kamu mau pulang jam berapa?” kata ‘pulang’ sebenaranya tidak ingin dan
terasa berat aku ucapkan. Dia melirik ke jam di tangannya. Sepertinya dia juga
masih mau menjalani sore ini lebih lama.
“Kamu naik travel kan?” Gimana kalau kamu minta dijemput di rumah aku. Jadi
kita masih bisa ngobrol lagi sambil menunggu.” Ide untuk menahan dia untuk
tetap bersama dengan ku terlintas begitu saja dalam kepalaku.
“Gak apa aku nunggu di rumah kamu?”
“Kamu udah dianggap keluarga, ntar kan anak kamu nikah dengan anaknya aku.”
“Aku telfon dulu ya.” Tidak menaggapi ucapanku.
Aku kembali memandang dia, entah kenapa aku begitu menikmati setiap momen
memandang dia. Tanpa harus mengucapkan satu kata, cukup hanya dengan memandang
dia saja.
“Hei, jangan melamun. Kita cari taksi yuk.” dia baru saja selesai memesan mobil
jemputannya.
“Jam berapa dijemput?”
“Setengah lapan, kenapa?”
“Gimana kalau kita jalan kaki. Cuacanya gak terlalu panas.” Aku sekali lagi
memberi usul untuk bisa lebih lama berdua dengan dia.
“Mmm, ya udah yuk jalan.”
“Kamu ingat terakhir aku telfon ke rumah kamu. Waktu itu kamu ngelarang aku
nelfon kamu, mulai sekarang bolehkan aku nelfon kamu kan?.” Kita udah keluar
dari area mall, berjalan di trotoar yang masih lembab terkena hujan. Langkah
kita pelan, seperti sedang menghitung jarak.
“Aku gak janji, susah untuk dijelasin.”
“Emang ada masalah, cuma ngobrol aja. Bukan mau ngajak kawin lari”
“Masalahnya suamiku…”
“Keren, gagah, penuh perhatian, taat beribadah.” Aku mencoba membalas joke nya
dia.
“Aku ngomong serius kamu malah bercanda.”
“Ok…ok. Sorry, emang kenapa dengan suamimu?”
“Dulu, sebelum kawin. Waktu masih pacaran dengan dia, aku cerita semua tentang
aku. Aku cuma mau dia tahu semua masa lalu aku, termasuk semua bekas pacarku.
Karena aku gak mau nantinya ada masalah setelah kami menikah.”
Lanjut part III Disini



