Kita berhenti dibawah pohon besar. Beberapa pedagang parkir di sekitar situ.
Kita memilih duduk di dekat penjual kelapa muda. Aku yakin dia membutuhkan
beberapa teguk air untuk melanjutkan ceritanya.
“Dia juga sempat baca beberapa puisi yang kamu kasih ke aku. Bukan aku yang
nunjukin, tapi waktu dia lagi main ke kamar aku, dia yang liat di atas meja.”
Beberapa teguk es kelapa muda kembali membasahi, sebelum dia melanjukan.
“Jujur aku bilang ke kamu sekarang. Meski kita udah gak ada hubungan lagi, tapi
aku juga masih sering ingat dengan kamu. Kadang aku sampai nangis. Aku kesel
sama diri aku, karena udah nyakitin kamu.” Aku kembali bisa melihat ada air
mata di wajahnya dan suaranya juga mulai bergetar. Dia berusaha untuk
melanjutkan.
“Aku masih ingat, waktu aku mutusin kamu. Kamu sama sekali enggak marah, kamu
malah bilang kalau kamu bakal tetap menuggu aku. Aku masih ingat sampai
sekarang, dan setiap kali aku ingat kamu, aku bener-bener merasa bersalah.
Apalagi waktu aku tahu dari temen-temen kuliah, mereka bilang kalau sampai saat
ini kamu belum marriage. Mereka enggak tahu banyak tentang kita, tapi waktu itu
aku merasa kalau kamu beber-bener buktiin kata-kata kamu. Karena aku tau kamu
selalu menuhi janji kamu.”
“Aku memang selalu berusaha penuhi janji, tapi come on, aku juga masih
sadar, gak sampai buta-buta banget.”
“Makanya aku senang waktu pertama nelfon kamu, kamu mau menerima dan ngomong
dengan aku. Apalagi waktu kamu bilang kalau kamu juga sudah punya pacar dan
berniat untuk menikah.”
“Aku masih normal koq. Masih butuh sentuhan wanita. Tapi kamu masih belum jawab
kenapa kita gak bisa saling tukar kabar?”
“Tadi aku udah bilang, kalau sejak aku mutusin kamu aku masih sering ingat
kamu. Dan kalau aku ingat kamu, aku baca puisi yang kamu tulis. Biasanya semua
puisi kamu aku simpan dan cuma aku yang tahu tempatnya. Mungkin hari itu lagi
sial, puisi-puisi kamu masih ada di meja dan dia masuk ke kamar. Dia baca puisi
kamu. Setelah itu dia bilang kalau kita masih saling berhubungan. Aku enggak perlu
bilangin semuanya. Yang jelas, setelah itu sepertinya nama kamu seperti
“penyakit” mematikan buat dia.”
“Hanya karena beberapa lembar puisi..”
“Dia melarang aku untuk menelfon atau berhubungan dengan kamu. Kadang aku juga
sering marah dengan dia, gara-gara dia selalu curiga kalau aku lagi menelfon.
Kalau selesai menelfon pasti nanyakin, tadi nelfon siapa, kenapa nelfonnya
lama. Padahal waktu itu kita masih pacaran, belum nikah.”
“Cemburu tanda sayang, dia pasti sayang banget dengan kamu,ya.”
“Tapi yang aku enggak ngerti, dia cuma cemburu dengan kamu. Kalau aku bilang
aku nelfon dengan cowok lain dia enggak marah. Meski aku bilang nelfon salah
satu bekas pacar aku yang lain, dia gak marah. Dia hanya tidak mau aku
berhubungan dengan kamu.”
“Aneh. Aku malah sama sekali sudah lupa apa yang aku tulis di puisi itu. Kamu
masih simpan gak?”
“Puisinya diambil sama dia, gak tau diapai.”
“Bener-bener aneh, cemburu dan benci dengan aku hanya karena puisi.” Aku
bangkit dari tempat duduk, membayar kelapa muda dan beberapa potong gorengan.
“Terus kalau dia tau sekarang kamu lagi jalan dengan aku, gimana?”
“Kalau kamu enggak ngomong, dia enggak bakal tau. Aku juga enggak cerita dengan
temen yang lain kalau hari ini aku ketemu dengan kamu.”
“Gimana dengan bapak kelapa muda tadi atau si Mbak penjaga toko? Gimana kalau
ternyata mereka agen mata-mata yang dikirim untuk mengawasi kamu.”
“Kamu dari tadi bercanda terus gak pernah serius.”
“Sekarang aku lagi cuti, lagi liburan. Aku gak mau pusing. Masalah suamimu yang
benci dengan aku. Aku gak mau terlalu mikirin, aku belum pernah ketemu dia, aku
gak kenal dia. Yang penting hari ini aku jalan dengan istrinya tersayang.”
Marah, cemburu dan benci dengan aku hanya karena membaca puisi yang aku tulis,
aneh ….
Kita sudah berjalan lebih setengah jalan menuju rumahku. Sekarang kita
berdua berdiri di perempatan jalan, bukan jalan besar tidak ada lampu merah,
hanya beberapa sepeda motor dan beberapa mobil hilir mudik. Aku secara refleks
memegang tangannya untuk menyebrang, tidak ada penolakan darinya.
“Kalau dia tahu, tangan itu bakal direndam kembang tujuh taman selama enam
malam.”
“Udah, enggak usah ngomongin dia lagi.”
Aku tidak tahu seperti apa akhir dari hari ini, meski sempat ada suasana
yang membuat kita tidak nyaman tapi sampai saat ini semua begitu indah. Kita
berdua bisa bertukar cerita, air mata dan ada tawa. Alam yang bersahabat, hujan
yang berhenti tepat pada waktunya dan membiarkan angin yang setia mendinginkan
sore ini. Thanks God,….
“Kamu sering jalan kayak gini?”
“Sering sih enggak, tapi pernah lah beberapa kali.”
“Dengan pacar kamu?”
“Enggak, sendiri aja.”
“Sendirian? Bukannya malah kayak orang lagi frustrasi.”
“Enggak juga, kalau dipikir-pikir jadi seperti meditasi. Beberapa orang percaya
pergi ke tepi pantai ke tengah laut atau ke puncak gunung untuk bermeditasi.
Aku melakukan meditasi di tengah kota. Ini namanya meditasi terbaru, merenung
dalam keramaian.
“Aneh…”
“Susah untuk aku jelasin, tapi kamu boleh coba kapan-kapan. Jalan sendirian
ditengah kota, merhatiin orang-orang yang jalan. Masuk ke pasar, atau bicara
dengan pedagang, supir angkot, tukang sapu jalan dengan siapa aja yang tidak
kamu kenal terus jalan lagi. Kamu harus coba sendiri baru bisa ngerasainnya.”
Dia sepertinya masih belum mengerti.
“Kamu pernah nonton film Before Sunrise ?”
“Mmm, kayaknya enggak, kenapa?”
“Cerita filmnya kurang lebih sama seperti kita sekarang. Enggak sepenuhnya
sama. Ceritanya tentang dua orang yang lagi liburan, cowok sama cewek sama
sekali belum pernah ketemu sebelumnya terus kenalan di kereta api terus mereka
sama-sama turun di satu kota tapi sama sekali bukan kota tujuan mereka berdua.
Abis itu mereka jalan keliling kota sambil ngobrol tentang apa aja. Sampai
pagi.”
“Kayaknya aku gak mau keliling sampai pagi, makasih ya.”
“Kalau seandainya kamu sanggup jalan sampai besok pagi, aku juga gak mau jalan
keliling kota. Mendingan aku ngajakin kamu check-in. Biar suami kamu kena
stroke! hahahaa…”
Satu pukulan mendarat di bahuku. Dan sepertinya dia sudah siap dengan satu
pukulan lagi tapi aku menghindar lebih dahulu. Berlari ke depan meniggalkan dia
beberapa langkah di belakang. Aku berdiri menunggu dia menghampiri, dia
berjalan pelan sambil tersenyum. Sore ini begitu sempurna. Cuaca yang indah dan
dia… memang lebih cantik…
Satu pukulan lagi di bahuku, kali ini lebih keras dari yang pertama.
Menghentikan pikiranku yang sedang menikmati dia yang terlihat lebih… Ok cukup!
Kembali ke dunia nyata.
“Masih mau jalan? Kalau enggak kita bisa naik angkot dari sini.” Aku menawarkan
alternatif, walau aku berharap dia masih mau melanjutkan dengan berjalan kaki.
“Jalan aja, gak apa. Tapi kalau ada warung duduk bentar ya.”
“Di depan ada mesjid, sekalian mau wajib “lapor.”
Aku baru keluar dari mesjid, dia sudah menunggu di luar. Beberapa pedagang
makanan di halaman mesjid. Tiba-tiba aku jadi lapar.
“Aku lapar, makan bakso yuk.”
“Kamu aja yang makan, aku masih kenyang.”
“Enggak jadi ah…”
“Bener gak apa, kamu makan aja. Aku pesan minum aja.”
“Kamu masih sering makan kayak gini?” dia memulai pembicaraan sambil menunggu
pesanan bakso.
“Enggak salah nih. Bukannya situ yang lama tinggal di luar negeri..”
“Jangan salah, disana juga ada bakso tau.”
“Dimana-mana bakso itu ada, namanya aja yang beda.”
“Koq jadi bakso ya, tadi itu maksud aku kamu masih sering makan di warung
pinggir jalan gini. Kamu kan kerjanya di hotel yang serba bersih, rapi, serba
teratur gitu.”
“Sama sekali gak ada hubungannya. Sampai sekarang aku masih merasa makanan
tradisional yang dijual di pinggir jalan jauh lebih enak daripada yang ada di
restoran atau hotel. Serius.”
“Makan bareng pacar kamu ya?” Aku diam saja tidak menjawab.
“Kamu jadi ingat dia ya?” dia masih berusaha menggoda
“Tapi kalau dipikir-pikir, masak masakan Eropa lebih gampang dari masakan kita.
Bumbunya gak ribet.” Aku mengalihkan pembicaraan.
“Emang kamu disana sering masak?”
“Masak sih enggak, cuma bantu motong dan cuci piring.”
“Berarti yang masak pacar kamu ya. Kesampaian juga keinginan kamu dapet cewek
yang pinter masak.” Aku cuma senyum.
“Sebelumnya aku ngirain hari ini, kalau kamu pasti marah-marah dan
melampiaskan kekesalan kamu selama ini. Mengungkit-ungkit masa lalu, nanyakin
macam-macem. Eh, gak taunya malah aku yang mulai mengungkit masa lalu. Kamu
malah santai aja, kayak gak pernah sakit hati”
“Kejadiannya sudah lama banget, lagian kalau hari ini aku marah-marah sambil
teriak juga gak ada untungnya sama sekali. Mungkin kamu juga langsung
pergi. Gak mau nelfon aku atau ketemu aku lagi.”
“Yah, seandainya aku bisa.”
“Bisa apaan? Telfon-telfonan dengan aku? Takut ketahuan sama suami kamu? Gak
usah dipikirin, santai aja. Cukup kita jalanin hari ini, besok…, yah liat besok
aja.”
“Bener apa kata orang-orang ya. Kita jadi lebih sayang dengan sesuatu waktu
kita udah gak memilikinya lagi.” suaranya pelan nyaris tak terdengar.
Rasanya aku ingin memegang tanganya, mendekatkan tubuhnya ke tubuhku.
Memeluknya dan bilang kalau aku masih dan tetap sayang dengannya.
“Orang-orang juga percaya, selalu ada kesempatan kedua untuk nunjukin
perasaan kita yang sebenarnya. Aku juga merasa kalau aku tidak bener-bener
buktiin kalau aku sayang dengan kamu. Tapi aku udah gak bisa buat apa-apa
lagi.” Dia tidak berkata apapun.
Aku berhenti sejenak, menarik nafas. Kenangan masa lalu kembali melintas
dalam pikiranku.
“Butuh waktu 3 tahun sampai aku akhirnya nelfon ke rumah kamu. Keinginan
untuk tahu kabar kamu ngomong dengan kamu begitu kuat. Aku sempat bicara dengan
adik kamu, dia yang bilang September kamu pulang, sekitar tiga bulan lagi. Dia
bilang September kamu pulang dan menikah. Keinginanku untuk tahu kabar tentang
kamu kesampaian, walau sebenarnaya bukan kabar yang aku harapkan. September,
dua hari sebelum kamu nikah. Aku masih ingat, aku nelfon ke rumah kamu lagi.
Aku hanya mau ngucapin selamat dan berharap kita bisa berhubungan lagi, sebagai
teman…”
“Udah gak usah di omongin lagi.” Dia menghentikan omonganku.
“Aku mau bilang, kalau aku sudah melepas kesempatan pertama dan aku sama sekali
tidak mau kehilangan kamu untuk ke dua kali. Waktu aku tahu kamu mau menikah
aku tidak kecewa, sama sekali tidak. Aku cuma mau kita masih bisa ketemu atau
ngobrol jadi teman baik, itu aja ”
“Aku tau, tapi kamu tahu kan. Aku tidak bisa berjanji, aku sekarang enggak
sendiri…”
“Iya, suami kamu. Aku ngerti. Aku juga gak mau kamu jadi ribut dengan dia
karena aku. Aku jadi penasaran dan sama sekali enggak ingat apa yang dulu aku
tulis sampai dia jadi begitu cemburu dan kesal dengan aku hanya karena puisi
itu.” Aku menekan kepalaku berusaha menggingat puisi yang pernah aku tulis.
“Ngomong-ngomong, kamu masih sering nulis puisi?”
“Iya, kadang-kadang, kalau ada ide aku tulis.”
“Puisi untuk pacar kamu?”
“Mostly about love, tentang perasaan kalau lagi jatuh cinta, tentang kecewa
karena putus cinta. Pokoknya masih seputar cinta-cintaan.”
Kita sudah sampai di depan rumah. Dia masuk berjalan di halaman sambil
mencari perubahan yang ada selama beberapa tahun. Tidak ada banyak perubahan.
Hanya beberapa bunga dan pohon yang berganti.
Aku melangkah ke teras rumah. “Mau cuci muka, benerin make up kamu atau
sekalian masak buat makan malam, nyapu atau nyetrika?”
“Emang aku pembantu.” Dia langsung menjatuhkan badanya di kursi rotan sambil
menghela nafas.
“Capek ya. Aku masuk dulu ya, sekalian ngambil minum.” Aku melangkah masuk ke
dalam sambil meliriknya yang duduk dengan pasrah.
“Hei…” aku menyadarkan dia yang sedang menutup mata sambil menyodorkan
handuk basah.
“Waw, cool towel. Baik banget.”
“Delapan tahun aku di gaji untuk melayani orang yang tidak aku kenal. Bolehkan
sekali-kali aku melayani teman sendiri. Lagian, cukup suamimu kesal dengan
puisiku. Jangan sampai dia tahu kalau kamu bermandikan debu karena aku. Bisa
bunuh-bunuhan.”
“Ini air putih atau vodka, ntar aku mabuk kamu macem-macem lagi.” Dia
melirik ke gelas yang berisi air putih di meja.
“Kalau mau, dulu juga bisa koq. Enggak usah pake alkohol juga gak apa.”
“Shut up.”
Sepertinya kita berdua sama-sama sedang menikmati kesunyian. Setelah
berjalan di tengah kota dan sekarang hanya duduk di teras, suasana terasa
sunyi.
“Kalau seandainya, kamu bisa kembali ke masa lalu. Apa yang mau kamu
perbaiki?”
“Aku sama sekali tidak mau kembali ke masa lalu.”
“Cuma seandainya…”
“Aku tetap gak mau.”
“Kalau aku, aku mau kalau waktu itu aku gak usah ceritain tentang kamu ke suami
aku. Dan aku gak lupa nyimpan puisi-puisi kamu. Jadi dia gak baca dan gak
cemburuan dengan kamu.”
“Kirain kamu mau bilang, kalau kamu gak pergi ke luar negeri dan nyari kerja
bareng dengan aku.”
“Katanya gak mau berandai-andai.”
“Yah sekedar menyenangkan hati kan gak apa.”
Aku kembali memandang dia kali ini dia berbalas memandang aku. Sunyi. Untuk
beberapa saat kita hanya saling memandang. Pikiranku kosong. Aku hanya ingin
diam.
“Aku mau tanya sesuatu tapi kamu jawab jujur ya. Kamu mau ketemu dengan aku
hari ini maunya apa? Kamu jawab jujur.” Dia memecah kesunyian.
“Yang pasti ketemu kamu, ngobrol dengan kamu terus apa lagi ya. Ya itu aja.
Kenapa sih?”
“Maaf kalau aku ngomong gini. Apa kamu masih sayang sama aku? Apa kamu masih
mengharapkan aku balik ke kamu?”
“Sayang sama kamu, iya dan tidak akan pernah berubah. Aku sayang sama kamu
selamanya cuma kali ini sayang as a friend, very close friend, untuk
mengharapkan kamu balik? Enggak, kamu istri orang, ok. Ngapain juga kamu tanya
kaya gitu?” Aku tidak suka dengan nada suaranya.
“Kamu sadar gak kalau hari ini, dari cara ngomong dan dari cara kamu ngeliat
aku. Sepertinya kamu enggak hanya sekedar mengharapkan aku as a friend. Walau
kamu ngomongnya sambil bercanda tapi dari mata kamu, aku merasa kalau hati kamu
bicara lain.”
“Kamu masih punya suami dan aku juga punya pacar yang…”
“Yang apa? Yang kamu sayang? Kamu juga gak bisa bilang kata sayang dia di depan
aku.”
“Kamu koq jadi ngomong ngelantur gini?”
“Kamu bilang karena aku masih punya suami, kalau aku cerai kamu masih mau
terima aku lagi?”
“Hei, kamu makin gak bener…”
“Aku ngomong bener, aku sadar yang aku omongin. Kalau aku cerai kamu mau nikah
dengan aku? Kamu jawab jujur. Kamu bilang kamu bakal tunggu aku kembali,
sekarang kamu mau terima aku? Kamu bisa penuhi janji kamu? Kamu sayang aku…”
kata-katanya terhenti berganti dengan tangis.
Oh My God, kenapa tiba-tiba jadi seperti gini. Kenapa jadi ada kata-kata
cerai dan menikah. Skenario seperti ini seharusnya tidak ada dalam cerita indah
sore ini. Memeluknya untuk mendinginkan hatinya rasanya bukan tindakan yang
tepat. Menemukan kata-kata yang menghibur juga bukan mudah. Aku hanya diam.
Aku yang masih sayang dia. Aku yang harus penuhi janji. Aku yang tidak
mengucapkan sayang dengan kekasihku. Suaminya yang benci dengan puisiku. Dia
yang mau cerai. Dia yang mau dinikahi. Kenapa tiba-tiba dia membicarakan semua
ini.
“Rose, kamu baik-baik aja?” Aku menyentuh tangannya pelan, tangisnya mulai
reda meski isakan dan airmata masih tersisa. Aku tidak tau harus melanjutkan
kata-kata apa lagi. Aku takut salah bicara.
Untuk beberapa saat aku masih memegang tangannya berpindah duduk tepat
disampingnya. Sentuhan ditangannya kini berganti usapan halus, masih tidak ada
kata yang terucap. Aku saat ini benar-benar butuh nikotin, kafein atau mungkin
alkohol untuk menenangkan perasaan aku.
“Kalau kamu udah baikan, kamu ngomong ke aku masalah kamu, apa aja. Kalau
aku bisa bantu aku bantu.” cuma itu kata yang bisa keluar dari mulutku.
Dia menarik nafas panjang matanya memandang kosong ke depan. Perlahan tangan
kanannya menghapus bekas air mata yang masih tersisa, tangan kirinya masih
belum terlepas dari genggamanku.
Perlahan pandangannya beralih menatap wajahku, hanya beberapa detik tapi terasa
lama. Memandangiku seperti sedang mencari sesuatu, sesuatu yang tidak aku
mengerti dan hanya ada dalam pikirannya. Kita masih berpegangan dan ada senyum
kecil di wajahnya. Ketika aku masih dipenuhi ketidaktahuan dia memberi satu
kecupan di pipiku.
“Aku boleh pakai toilet di dalam.” Dia berdiri dengan masih memegang
tanganku. Aku hanya menggangguk pelan, pikiranku masih kacau dengan semua
pembicaraan dan kejadian selama 5 menit sebelumnya.
Aku berdiri dan berjalan didepannya. Aku baru saja melangkahkan kakiku
ketika dia menyentuh bahuku dan aku menoleh kearah dia.
“I love you…” Wajahnya tepat berada di depanku. Kata-kata itu terucap pelan
tapi kembali membuat aku terpaku beberapa saat sebelum kembali membalikkan
badan masuk ke dalam.
“Ibu permisi ke kamar kecil ya.” Dia menyapa ibuku yang duduk di ruang
keluarga.
“O iya, silahkan di belakang.” Ibukku sepertinya sedang mengamati dan
menggingat-ingat dia. Aku mendekati lemari es, segelas air dingin mungkin bias
menenangkan hatiku. Aku melirik ke arah ibuku yang sepertinya masih berusah
mengingat dia.
“Ello…!? Dia itukan…!??” kata-kata ibuku terhenti ketika suara pintu
terbuka.
“ Ma kasih ya Bu. Saya duduk di luar.” Dia melangkah di depanku, aku sempat
melirik ke ibuku dan sepertinya dia sudah ingat perempuan yang baru saja
berlalu didepannya. Dan akhirnya tahu tujuan utama aku cuti satu minggu saat
ini.
Sebenarnya aku tidak mau menanyakan atau mengungkit kembali semua yang baru
saja dia ucapkan. Tapi rasa keinginan tahu juga begitu besar dalam kepalaku.
Beberapa jam lagi mobil jemputannya datang dan membawa dia pergi. Seandainya
aku tidak menanyakannya dan mendapat jawaban yang pasti, aku berani jamin aku
tidak akan bias tidur malam ini dan cerita sore yang indah ini akan berantakan.
“Kamu mau jelasin ke aku, yang tadi kamu omongin?” Dia tidak menjawab, dia
masih sibuk dengan peralatan make up nya. Membetulkan wajahnya yang ternoda
oleh debu dan air mata. Pandanganku tertuju ke halaman kali ini aku tidak mau
memandangnya. Aku tidak mau lagi pandangan ini disalahartikan.
“Aku memang lagi ada masalah dengan suami aku.” Dia telah selesai dengan
make up nya.
“Tapi gak ada hubungan dengan kamu koq.”
“Kamu mau cerita?”
“Sebenarnya sama seperti masalah suami istri yang lain. Beda pendapat terus
marahan besoknya baikan lagi. Terus berantem lagi. Tapi lama-lama jenuh juga.”
“Kalau cuma masalah rumah tangga biasa, kenapa pake bawa-bawa kata cerai?”
“Tadi aku barusan bilang, jenuh. Capek terus-terusan seperti ini.”
“Cerai bukan jawabannya”
“Kayak kamu sudah nikah aja.”
“Aku kenal kamu bukan sekedar teman. Aku tahu kebiasaan kamu. Aku juga bisa
merasa kalau masalah kamu bukan cuma jenuh, tapi lebih dari itu. Aku gak bisa
maksa kamu cerita, tapi kalau kamu mau aku selalu ada.”
Dia hanya diam, mungkin dia masih ragu antara menceritakan semuanya dengan
aku atau tetap diam.
“Dia mukul kamu atau dia suka mabuk?” aku menyebut dua hal yang dia tidak
suka dari laki-laki.
“Maksud kamu?”
“Hanya dua hal itu yang bisa bikin kamu mengucapkan kata cerai. Jenuh atau
bosan mungkin bisa jadi alasan buat putus dengan pacar tapi enggak untuk suami
istri. Kalau selingkuh, aku rasa suami kamu gak terlalu bodoh untuk selingkuh
kalau punya istri kayak kamu.”
“Kenapa kamu selalu baik dengan aku. Kenapa kamu tidak pernah ngomong kasar
atau memaki aku.”
“Kamu gak buat salah apa-apa, so kenapa aku harus…”
“Enggak cuma sekarang, gak cuma setelah aku mutusin kamu. Waktu kita masih
pacaran, kamu juga selalu memaafkan aku gak pernah kasar…”
“Aku baik koq malah jadi salah.”
“Kamu selalu baik dan terlalu baik, dan tidak berubah.”
“Tidak cukup baik. Kalau aku sebaik yang kamu rasa, kamu gak akan mutusin aku
waktu itu.”
“Aku sama sekali tidak pernah menjalin hubungan jarak jauh dan aku juga
enggak yakin kalau aku bisa. Makanya aku enggak mau kasih janji untuk kamu.”
“Ok aku tau itu. Sekarang kamu mau cerita masalah kamu dengan suami kamu?”
Dia menghela nafas. “Dia sama seperti kamu. Sabar dan perhatian dengan aku,
enggak cuma waktu pacaran sampai dua tahun setelah nikah dia masih sama.”
“Waktu Yenn lahir, dia lahir disini. Aku tinggal satu tahun disini dia masih
tetap disana. Kita ketemu dua kali selama setahun itu, gak ada yang berubah
masih sama. Tapi setelah satu tahun dan aku mulai kerja aku merasa ada yang
berubah. Hal-hal kecil bisa jadi masalah gak cuma marah tapi pakai
lempar-lempar barang. Sampai saat itu aku masih sabar. Sampai tahun lalu, aku
enggak bisa terima lagi karena dia sudah melewati batas, dia…”
“Dia mukul kamu?”ada emosi di hati aku
“Kamu juga tahu, aku enggak bisa terima kalau aku sampai dipukul.”
“Kejadiannya, dia mukul kamu setahun yang lalu.”
“Kata-kata cerai sudah aku sebut waktu itu. Tapi kamu tau sendiri, cerai tidak
semudah mutusin pacar. Aku juga harus mikirin anak, terus ada keluarga yang
juga ikut campur. Ibu dia yang ikut minta maaf. Banyak yang harus
dipertimbangkan, terutama anakku.”
“Berarti sudah gak ada masalah lagi kan?”
“Dia memang tidak pernah main fisik lagi. Tapi marah karena hal-hal sepele
dan banting-banting barang, mukul tembok atau pintu masih sering. Aku cuma
merasa hanya menuggu waktu dia mukul aku lagi.”
“Aku sama sekali tidak mengerti kenapa harus memukul orang yang jelas-jelas
lebih lemah. Bukan merendahkan kamu tapi seandainya kamu punya kemampuan bela
diri aku rasa dia bakal mikir dua kali untuk mukul kamu. Aku enggak pernah
mengerti, memamerkan kekuatan fisik untuk menunjukkan kekuasaan atau malah
sebaliknya hanya membuka kelemahan jiwa.”
“Aku cuti sekarang ini juga tanpa seizin dia, tapi aku enggak perduli. Aku
hanya mau jauh dan enggak mikirin dia.”
Aku seperti melihat ada beban yang terangkat dari pundaknya. Berbicara dan
berbagi cerita memang tidak menyelesaikan masalah yang sebenarnya. Tapi cukup
untuk meringankan pikiran dan menyenagkan hati mengetahui ada teman yang mau
ikut berbagi.
“Aku belum pernah cerita masalah ini sama orang lain. Mereka cuma tahu aku
ada masalah dengan suami aku, cuma itu saja. Aku enggak tahu kenapa aku cerita
semuanya sama kamu.”
“Aku tahu kenapa. Karena kamu maksa aku untuk kawin dengan kamu.” aku tersenyum
sambil melihat dia. Semoga dia tidak salah mengerti.
“Lupain saja yang tadi aku ucapin. Aku enggak sungguh-sungguh. Aku juga enggak
mau merusak hubungan kamu sama dia. Kamu gak pantes dapat janda.”
“Gak ada yang tahu apa yang ada di depan sana. Siapa yang tahu kalau setelah 10
tahun kita bisa ketemu seperti ini. Dan hanya dalam beberapa jam kita sudah
bicara banyak.”
“Aku senang bisa ketemu dan bicara sama kamu lagi. Termasuk ngomongin masalah
pribadi aku.”
“Kamu bisa cerita kapan saja sama aku. Masalah kamu sama suami, mungkin enggak
pantas kalau aku ikut campur terlalu jauh. Masih ada keluarga kamu yang lebih
pantas kamu dengar nasihatnya. Tapi apapun nanti jalan yang kamu ambil aku
mendukung kamu.”
“Kalau seandainya aku milih cerai?”
“Kalau kamu siap jadi istri kedua, aku siap. Gak cuma bercanda. Aku rasa masih
banyak pengusaha tua yang siap menerima…”
“Shut up…!”
“Sorry, sekarang serius nih. Seperti aku bilang, apapun keputusan kamu aku
selalu mendukung. Kamu lebih dari sekedar teman buat aku.”
Sore sudah berlalu dan langit juga tak lagi biru di depan pagar mobil
jemputan sudah menuggu. Kita berdua tahu saat ini pasti tiba dan ketika dia
datang kita tak rela, kita merasa masih banyak cerita yang belum dibagi.
“Ya udah, gak enak sama mereka menuggu terlalu lama.” Aku mencoba menutup
cerita sore ini meski tidak sepenuh hati.
“Kamu kapan balik?”
“Jumat pagi.”
“Aku masih mau ketemu kamu, jalan sama kamu lagi, tapi..”
“Kamu gak usah bilangin, aku juga udah tau.”
“Ma kasih ya. Aku…”
“Gak usah sebutin gak usah buat janji. Kita pasti ketemu lagi.” Aku memegang
tangannya menatap matanya meyakinkannya. Tubuhnya merapat dan aku memeluknya.
“Aku pergi ya.”
Aku mengangkat jariku dan mendekatkan ke wajahnya. Memberi tanda untuk tidak
lagi mengucapkan kata-kata. Aku memberi satu kecupan di keningnya dan melangkah
mundur. Dan dia pergi.
Aku masih berdiri terpaku, mobil yang mengantarnya telah berlalu bahkan
debunya juga telah tersapu. Aku mencoba mengingat dan menyatukan setiap detik
dan menit di sore yang baru saja berlalu.
Perlahan aku menyentuh kalung yang dari siang ini menggantung di leherku
menggosoknya dengan jariku dan kemudian melepaskannya dari leherku. Aku membuka
kedua ujungnya dan mengeluarkan cincin yang terikat di kalung itu. Aku
memandang cincin itu membaca tiga huruf yang terukir di bahagian dalamnya… Chi.
Aku tersenyum dan memasangkan cincin itu kembali ke jari.
Satu janji yang pasti dan akan aku tepati…
…
…
dan kini telah kutemui
bunga indah lain mengisi hari
meski wangi dan indah berbeda
tapi akan tetap selalu kujaga
dan kali ini
tidak akan kubiarkan dia pergi
ku pasti penuhi
semua janji
sumber : http://www.yulissamoa.com/cerpen-cinta-sejati-romantis



